Gadis Desa Pengantin Penganti Bab 4

 Admin kembali lagi dengan Novel yang sangat seru,Novel ini menceritakan seorang gadis Desa yang bernama Khansa yang di anggap wanita sial di desa tersebut,Novel ini berjudul “ Gadis Desa Pengantin Penganti ”


Hahaha Admin ga akan lanjut nanti di bilang spioiler lagi kita akan lanjut ke kisah Khansa yang sangat menguras perasaan dan Novel ini mempunyai jalan cerita yang panjang dan  seru langsung saja kita menuju TKP….😘😘🥰


BAB 4 : CANTIK BERACUN


Tangan Leon segera berhenti, dia tidak jadi membuka cadar itu. Leon malah menatapi Khansa dengan tatapan serius.


Ketika tidur istrinya ini terlihat imut dan patuh, sungguh tidak akan ada yang mengira jika istrinya yang terlihat cantik dan lugu ini bisa menggunakan jarum perak dengan lihainya dan malah membuat pria becodet di hari itu kalah dengan telak hanya dengan satu tusukan  jarum perak. 


"Cantik! Beracun!" gumam Leon seraya memperhatikan bekas merah di leher istrinya, bekas merah yang dia tinggalkan ketika tadi mencekik leher Khansa ketika penyakitnya kambuh.


Leon kembali lagi ke atas sofa, barusan dia memang tertidur selama sepuluh menit, tapi tidurnya selama sepuluh menit itu sudah sangat berharga, penyakitnya sedang memburuk, dan tidak bisa disembuhkan hanya dengan jarum Khansa, tapi itu sudah cukup banyak membantunya. Leon memandangi gumpalan kecil di atas ranjangnya sambil memikirkan betapa lembutnya Khansa.


Keesokan paginya di ruang makan keluarga sebastian,  Khansa duduk di sofa sambil memakan bubur kacang hijau. Nenek Sebastian sangat menyukai cucu menantu barunya ini, dia menggandeng Khansa dan terus mengatakan hal-hal baik dan tak henti-hentinya tersenyum.


Tak lama kemudian Leon turun dari lantai atas, dibelakangnya diikuti seorang pelayan yang cukup berumur, di tangannya terdapat sebuah sapu tangan persegi berwarna putih, dan di atas sapu tangan terdapat sebuah bercak merah, ini menunjukkan bahwa Khansa dan Leon telah melakukannya semalam.


"Nyonya!" sapa pelayan Tua tersebut dengan senyuman yang memenuhi wajah tuanya itu. 


"Selamat Nyonya," tukasnya lagi. 


Pelayan tua memberi selamat pada Nenek Sebastian, lalu Nenek Sebastian memberikan sebuah amplop berisi uang kepadanya.


"Kerja bagus!" puji Nenek Sebastian.


Khansa merasa aneh, memang ada wanita yang akan berdarah saat melakukannya pertama kali, tapi mereka tidak melakukannya semalam, jadi bercak darah  dari mana itu?


Melihat wajah aneh Khansa yang terlihat sedang berpikir keras, Leon pun menyeringai. Leon mendekatkan duduknya ke kursi Khansa. Leon berbisik di telinga Khansa. "Skenario drama pernikahan kita."


Dia mengatakan dia yang melakukannya, lalu malah menanyakan secara terang-terangan hal yang masih dianggap tabu oleh kebanyakan orang tua dulu atau pun sekarang, "apakah kau masih perawan?"


Khansa, ".."


"Hissh pria ini benaran deh, apa Tuhan menciptaknnya hanya untuk membuatku mengkesal di setiap hari!" pikirnya sambil memasukan satu sendok bubur kacang hijau ke mulutnya.


Khansa bahkan tidak pernah pacaran, wajahnya langsung saja memerah seketika ketika mendengar pertanyaan ini.


Di mata Nenek Sebastian, mereka berdua  yang sedang berbisik ini, memanglah tampang sepasang suami istri baru, Nenek Sebastian pun merasa senang.


Leon masih saja menggodai  Khansa, "kau  belum genap berusia dua puluh tahun, baru sembilan belas tahun kan ya?  harusnya belum punya pacar dong ya?" 


Leon berusia dua puluh tujuh tahun, tampan dan gagah, usianya sekarang adalah usia produktif seorang pria.


Khansa tidak ingin Leon semakin mendekat, dia segera menyuapi bubur kacang hijau di tangannya ke dalam mulut Leon agar Leon berhenti menggodainya.


Leon punya mysophobia, ini adalah sebuah ketakutan patologis terhadap kuman, bakteri, mikroba, kontaminasi, dan infeksi.


Pengidap mysophobia cenderung mudah jijik terhadap hal-hal yang bersifat kotor, merasa apa yang barusan disentuh itu bisa mengotori tubuh dengan virus atau bakteri.  Tapi yang dipakai adalah sendok bekas Khansa.


Kepala pelayan merasa sangat ketakutan, dia bergegas mengambilkan sendok baru untuk Tuan Mudanya. Tapi tak disangka Leon tidak hanya tidak marah, dia bahkan mulai makan menggunakan sendok bekas Nyonya Muda, dan terakhir dia mengembalikan sendok itu kepada Khansa.


Khansa tidak ingin ciuman tak langsung dengan Leon, karena menggunakan satu sendok yang sama dengan Leon, dia segera saja menghabiskan buburnya dengan cepat, lalu berkata, “Nek, aku sudah kenyang.”


Leon mengangkat sudut bibirnya saat melihat tampang lucu Khansa karena ditindas, moodnya hari ini lumayan bagus. Setelah selesai sarapan, Khansa perlu pulang ke rumah orang tuanya sebentar.


Nenek meminta Leon untuk mengantar Khansa pulang, di dalam mobil, keduanya kembali menegaskan perjanjian pernikahan yang bertujuan untuk saling menolong.


"Tidak ada kontak fisik selama pernikahan!" tukas Khansa. 


"Kau menikah karena nenek, dan aku menikah karena memiliki tujuan sendiri," jelasnya lagi. 


"Tidak bisa!" protes Leon. 


"Dalam keadaan tertentu! Memeluk, mencium dan hal-hal sejenis yang aku sebutkan tadi masih diperbolehkan," tukas Leon.


"Dasar mesum, kau ini suka sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan," ujar Khansa yang masih kesal mengingat malam pertama mereka itu.


"Jika ingin memanfaatkan statusku untuk mencapai tujuanmu, maka ikuti skenario aku," ujar Leon memberikan penawaran dengan nada acuh tak acuh.


"Hissh …" gumam kesal Khansa seraya menggembungkan kedua pipinya itu karena mengkesal dengan suaminya ini.


Awalnya Leon berpikir pernikahan yang diaturkan untuknya ini, akan sangat membosankan. Namun, siapa sangka wanita yang dinikahinya ini  malah seperti landak. Menebar duri di seluruh tubuh, untuk melindungi diri sendiri.


Biasanya, ketika menghadapi musuh, landak akan langsung meringkukkan tubuhnya menjadi bola sehingga duri tajamnya semakin tegak berdiri.


Setelah itu, landak akan masukkan kepala, ekor, dan kaki mereka, lalu berguling untuk melindungi diri dari musuh. Beginilah Khansa di mata Leon Sebastian.


Leon merasa ada bagusnya juga memiliki istri seperti ini, sedikit meringankan tugasnya untuk menjaga Khansa dari musuh-musuh bisnis yang selalu mengintai dan ingin menjatuhkannya.


Kesepakatan lisan pun terjadi didalam mobil mini cooper berwarna merah yang atapnya bisa dilipat itu. Ditaksir harga untuk satu mobol ini mencapai satu milyar lebih.


Leon dengan tampannya mengemudikan  mobil konvertibel yang sangat bagus, mentereng ini di jalan raya.


Terdapat aroma cinta sepasang kekasih dalam embusan angin sepoi-sepoi, karena Leon melipat atap mobilnya itu.


Keduanya tiba di depan pintu rumah  keluarga Isvara. Khansa terkunci oleh sabuk pengaman. Leon mendekat untuk membantunya melepaskan sabuk pengaman, hidungnya dipenuhi aroma feminin di tubuh Khansa.


Sedikit membuat Leon termenung, wangi ini mengapa hatinya jadi sangat menyukai wangi ini. Leon menaikan satu alisnya karena merasa heran. 


Biasanya Leon sangat membenci aroma parfum yang tercium  tapi kali ini dia malah tidak membenci aroma pada tubuh Khansa. Dia membantu Khansa melepaskan sabuk pengaman dan menanyakan pada Khansa parfum apa yang ia pakai. Khansa mengatakan dia tidak menggunakan parfum.


Leon, "…"


Leon mencabut lepas sabuk pengaman yang masih melingkar di tubuh Khansa. "Nah sudah."


Leon mengenai bibir Khansa pada saat menengadahkan kepalanya. Meskipun terhalangi oleh sebuah cadar, tapi ini adalah ciuman pertama Khansa.


Khansa, "…"


Tatapan mata pengantin baru itu saling bertemu, dan menatap dalam canggung. Keduanya terdiam dalam posisi tersebut. Sama-sama terlihat sedang mensinkronkan otak dan hati mereka.


Klik ini untuk lanjut ke Bab Berikutnya


Bersambung

Novel ini merupakan Novel yang panjang dan mempunyai cerita yang sangat bangus dan seru untuk menemani anda di kala santai.ikuti kisah selanjutnya yah.


Posting Komentar untuk "Gadis Desa Pengantin Penganti Bab 4"